Kami tidak lebih baik dari kuda pacuan

Desember 08, 2016

Sepak bola bukanlah pekerjaan yang menjamin masa depan, banyak dari atlet indonesia yang mudanya mengharumkan nama indonesia, namun saat tua mereka di sia-siakan. Bukan hanya sepak bola, begitu pula olahraga yang lain. Seperti Bulutangkis, Tinju dll. Hal ini sangat memprihatinkan, wajar bila banyak bakat pada diri olahragawan yang urung untuk di sumbangsihkan bagi negara kita, dan mereka lebih memilih menjadi PNS yang masa depannya mungkin lebih terjamin.

Seperti kisah Ramang, seorang pesepak bola Indonesia yang jaya pada tahun 1950an. Pemain yang memberikan sumbangsih banyak bagi pesepak bolaan Indonesia. Namun pada saat tua Ia seperti di sia-siakan, lebih parah lagi beliau mengidap penyakit paru-paru selama 6 tahun dan tidak bisa berobat karena kekurangan biaya. Beliau memiiki banyak jasa mengapa di sia-sia kan saat sudah tidak mengenakan garuda di dadaNya, Ramang pernah menyebut bahwa pemain sepak bola sepertinya tidak lebih berharga dari kuda pacuan. "Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada panggilan. Sesudah itu tak ada apa-apa lagi," katanya dengan kecewa. Namun Ramang sudah berketetapan hati menutup kisah masa lampaunya itu. "Buat apa mengenang masa-masa seperti itu sementara orang lebih menghargai kuda pacuan?" katanya. Sedikit saja kutipan tentang kisah Ramang, dan menggambarkan betapa memprihatinkannya wujud penghormatan terhadap jasa-jasa para atlet yang telah memberikan jasa, meneteskan keringat. Untuk bengsa, namun mereka di perlakukan tidak lebih baik dari kuda pacuan :'(

You Might Also Like

0 komentar

Twitter

Pinterest

Youtube